Pak,.. bangun pak..

bismillaahirrohmaanirrohiim

Malam itu seperti biasa, aku dan keluargaku pergi untuk mencari rizqi. Di jaman yang serba materialis ini, sesuap nasipun harus didapatkan dengan bekerja keras tanpa henti.

Apalagi aku, seorang pemulung. Ya, aku melakukan pekerjaan keseharianku sebagai seorang pengumpul barang-barang bekas. Kardus, plastik dan sebagainya. Aku mengumpulkan barang-barang tidak terpakai itu dari tong-tong sampah, dari tempat pembuangan akhir atau dari mana saja yang aku bisa dapatkan.

Malam itu, menjadi satu malam yang istimewa bagiku dan keluargaku. Seperti malam sebelumnya, aku, istri dan anak laki-lakiku yang masih kanak-kanak sudah bersiap istirahat dibawah kolong jembatan rel kereta di stasiun Bandung ini.

Seperti biasa, istriku menyempatkan menemani anakku yang masih belum lelah untuk sekedar main dan berlarian dikolong jembatan ini.

Ya Rabbi, begitu berat rasanya ujianmu ini. Aku telah engkau takdirkan menjadi seorang kepala keluarga yang tidak mampu berbuat banyak untuk anak dan istriku. Kuatkanlah aku ya Rabbi, ditengah ujianmu ini.

Demikianlah aku mengawali istirahatku malam itu dengan penuh pengharapan. Aku malu untuk bertanya pada anak dan istriku, apakah kiranya mereka masih lapar. Karena jika aku bertanyapun, aku merasa tidak punya jawaban untuk rasa lapar mereka.

Sudah tak tertahankan lagi rasa kantukku. Terlebih setelah lama aku mengumpulkan barang-barang bekas ini. Terlelaplah aku diatas tumpukan kardus bekas diatas gerobakku. Sayup masih kudengar suara anak laki-lakiku berlarian ditengah deruan suara mobil yang terkadang melintas di dekat kami.

Aku, tidak tahu sudah berapa lama aku terlelap. Namun kemudian suara keras anakku tiba-tiba membangunkan aku..

Pak.. bangun pak..

bagun pak.. kita dikasih makan pak.. ada yang kasih makan kita.

tuh itu pak, orang yang itu yang kasih pak…

Diantara sadar dan tidurku, ditengah malam yang gelap itu, aku melihat sesosok laki-laki setengah baya berjalan menjauh dari tempat kami berteduh. Laki-laki itu mempercepat jalannya seakan tidak mau aku tahu siapa dia. Bahkan belum sempat aku berterima kasih padanya. Laki-laki itu sudah jauh meninggalkan kami.

Laki-laki itu yang telah memberikan makan malam kami hari ini. Sejenak setelah memberikan sekotak roti ini dia langsung meninggalkan kami. Tidak sepatah katapun dia ucapkan, hanya usapan lembut di pipi anakku. Itulah yang aku bisa dapatkan dari cerita istriku yang masih terjaga saat itu. Sekotak kue mewah lengkap dengan hiasannya. Masih hangat.

Kulihat binar bahagia dimata anak dan istriku. Sangat langka peristiwa ini terjadi pada kami. Ada yang tetap membuatku terhanyut dalam renunganku malam itu. Masih adakah orang yang berhati mulia semisal laki-laki itu di jaman ini.

Ataukah dia bukan manusia, melainkan malaikat yang dikirimkan Allah untuk menghampiri kami malam itu. Menghangatkan kami dikala tiada pembatas kami dengan angin berhembus. Mengisi kekosongan perut kami. Dan menjadi pengkabulan doaku..

Doaku untukmu wahai saudaraku… semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih mulia disisiNya.. amin..

Disunting, dengan sedikit perubahan setting dari kisah seorang saudara di Bandung..buahjeruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: