jadi bingung…

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sejujurnya jadi bingung melihat surat kabar yang beberapa hari terakhir ini membahas masalah cross ownership dari Temasek Holdings di Telkomsel dan Indosat. Juga memberitakan tentang Telkomsel yang melakukan monopoli . Sebagai orang awam ada beberapa hal yang sukar saya mengerti. Mungkin ada yang bisa membantu menjelaskan😀

Pertama:

Saham Temasek tidak ada yang yang lebih dari 50 %. Biasanya yang tidak lebih dari 50% tidak bisa menjadi penentu mutlak kebijakan bukan? CMIIW. Misalnya: Saham Singtel di Telkomsel hanya 35% sedangkan Telkom 65% berarti yang dominan Telkom. Berarti yang potensial jadi penentu kebijakan Telkomsel adalah Telkom. STT di Indosat juga walaupun mendekati 50% (41.9%) tapi belum lebih dari 50%. Atau ada penjelasan lain terkait dengan masalah penentu kebijakan dilihat dari sudut pandang besaran kepemilikan modal?

Kedua:

Monopoli. Anggaplah misalkan market share Telkomsel adalah 55 – 65 %. Apakah ini yang menjadi alasan Telkomsel didakwa melakukan monopoli? Di wikipedia monopoli disebutkan berikut:

A monopoly (from Greek mono(μονό), alone or single + polο (πωλώ), to sell) is a persistent situation where there is only one provider of a product or service in a particular market. Monopolies are characterized by a lack of economic competition for the good or service that they provide and a lack of viable substitute goods. [1]

Pemahaman saya dari definisi diatas, suatu provider disebut monopoli apabila tidak ada kompetitor dalam penyediaan produk atau layanan. Demikian juga bila tidak ada alternatif lain yang dapat ditemukan oleh pelanggan selain menggunakan produk atau layanan dari sebuah provider. Mungkin yang saat ini tepat disebut sebagai monopoli adalah PLN (Perusahaan Listrik Negara) namun tentunya bisa dikategorikan PLN ini sebagai government monopoly untuk menjaga aset negara dan menjamin hajat hidup orang banyak. (apakah berarti ada kompetitor hajat hidup orang banyak tidak dapat terpenuhi?)… atau juga bila mas Iman Brotoseno; salah satu sutradara kreatif di Indonesia; mendadak jauuuuhhh lebih berhasil mengeksploitasi otak kanannya secara optimal daripada orang lain dan bisa menghasilkan karya2 yang selalu sukses besar sehingga semua calon client lebih memilih menggunakan jasa Mas Iman daripada sutradara lain, apakah Mas Iman dikatakan monopoli? (nuwun sewu mas, ijin mencatut nama sebagai contoh) 

—atau contoh diatas gak nyambung dengan tema? jangan ketawa dong…namanya juga lagi bingung😉

Kembali ke masalah Telkomsel sebagai tertuduh monopoli. Saya lihat pelanggan dapat dengan mudah menemukan produk/ layanan selain yang ditawarkan Telkomsel. Mulai dari produk prepaid (bayar didepan) sampai dengan produk postpaid (bayar belakangan). Tidak ada kesulitan dan halangan untuk meninggalkan produk/ layanan Telkomsel dan berpindah ke provider/ operator lain. Bila kondisinya seperti ini? kira – kira dari sudut manakah Telkomsel disebutkan sebagai tertuduh untuk masalah monopoli sehingga oleh KPPU diwajibkan membayar denda Rp. 25 M dan menurunkan tarifnya 15%

Turun tarif!!!… Ini kebingungan ketiga…

Seandainya, Telkomsel menuruti KPPU dan menurunkan tarifnya trus membuat pelanggan memilih kembali produk Telkomsel sehingga market sharenya bertambah besar… apakah berarti Telkomsel dapat dituduh melakukan monopoli lagi?

Juga seandainya Telkomsel menuruti KPPU dan menurunkan tarifnya, kelebihan apalagi yang dapat ditawarkan provider/ kompetitor lain (apalagi yang baru saja muncul) dapatkah mereka exist melawan Telkomsel dan Indosat serta Excelkomindo yang tentunya semakin gila bermain perang – perangan tarif? kuat – kuatan modal?

Trus juga apakah dengan perang tarif yang tidak dapat dihindari itu, iklim investasi dunia Telekomunikasi Indonesia bisa menjadi lebih baik? … (saya pribadi tetap berharap demikian)… bagaimana orang mau berinvestasi bila tidak ada profit yang bisa diharapkan atau profitnya kecil sekali sehingga lebih baik berinvestasi pada bidang lain atau lebih parah : lebih memilih berinvestasi pada negara2 lain? Dapat apa Indonesia?

Saya pribadi memang keberatan dengan tarif tinggi (baca: mahal) hanya saja bingung juga bila terlalu murah. Bisa hidup darimana perusahaan itu?. Sebenarnya yang dibutuhkan mungkin adalah tarif yang masuk akal bukan tarif yang murah. Tarif tinggi bisa masuk akal apabila terbukti performance produk/ layanannya sangat memuaskan, prestige nya tinggi atau after sale servicenya yahud… Bisakah dijamin dengan harga muraaaaaaah dapat kualitas produk dan layanan yang prima? Kalaupun ada dan akhirnya banyak pelanggan yang menggunakannya sehingga market sharenya besar, berarti musti hati2 bisa jadi di”semprit” KPPU dan didakwa monopoli lho… hehehehe

Nah itu dia kebingungan2 saya… keterbatasan pengetahuan ttg UU antimonopoli, sistematika penentu kebijakan based on kepemilikan modal, monopoli, kondisi ekonomi rakyat dan bangsa Indonesia, potensi investasi, dll membuat kebingungan2 itu muncul…

Tapi enak juga kalau duduk, dengar, baca dikit trus komentar… apalagi kalau ada yang ngebantu ngejelasin ttg hal diatas😀 sambil nunggu hasil banding dari Temasek, Singtel, STT dan Telkomsel. Kita tunggu di koran2 hari2 kedepan…😀

3 Responses so far »

  1. 1

    Perusahaan Asing Berebutan Pangsa Pasar Seluler di Indonesia

    Konon beredar kabar bahwa issue monopoli TEMASEK HOLDING terhadap dua perusahaan seluler raksasa Indonesia (baca: TELKOMSEL dan INDOSAT), mulai tercetus dan disebarluaskan pertama kali oleh pihak Malaysia secara diam-diam.

    Dahulu Malaysia hendak mencaplok TELKOMSEL dan/atau INDOSAT, namun mereka ternyata kalah cepat dari Singapura. Akhirnya, Malaysia “hanya kebagian jatah” mencaplok EXELCOMINDO PRATAMA (XL), dan menjadikan XL sebagai salah satu anak buah perusahaan mereka; a TM company (TM = Telecom Malaysia).

    Dengan semakin kuatnya issue monopoli TEMASEK ini, mereka mengharapkan agar setidak-tidaknya pihak TEMASEK harus rela melepaskan saham-sahamnya dari TELKOMSEL atau INDOSAT. Kemungkinan saham-saham yang akan dilepas tersebut kemudian dibeli, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, oleh pihak Malaysia (selain di bawah bendera TM tentunya) adalah cukup besar.

    Mengingat bahwa pemerintahan Malaysia dan kroni-kroninya, sedang gencar-gencarnya giat melakukan aksi “Malingsia” (baca: Malingin Indonesia) terhadap Indonesia semenjak beberapa tahun silam. Dari mulai Ambalat, Sipadan-Ligitan, Batik, Angklung, Tempe, Lagu Rasa Sayange, hingga Tari Reog Ponorogo yang beritanya kini sedang hangat-hangatnya.

    Mereka pun berhasrat ingin mendominasi/menguasai pangsa pasar seluler kita (bukan selular = celana dalam, versi bahasa Malaysia). Kalian masih tidak percaya? Biarlah waktu yang akan membuktikannya!

    Mari Kita Ganyang Malaysia!!!
    MERDEKA!!!

    See also:
    http://www.temasekholdings.com.sg/media_centre.htm
    http://www.temasekholdings.com.sg/pdf/1.%20Background%20summary.pdf

  2. 2

    ewepe said,

    Yang terbaru katanya (katanya lagi😀 ).. korporasi dari Rusia yang akan main…

    Based on keputusan KPPU, maksimal yang beli saham Indosat/ Telkomsel (entah yg mana yg dilepas, walo sepertinya potensial Indosat) adalah 5 % untuk masing2 penanam saham. Entah bila masih bisa kong kalikong lagi dibelakang hari…

    Pejabat2 kita khan masih banyak yang doyan uang daripada mikirin masa depan bangsanya😀

  3. 3

    ferian43 said,

    tp sebenernya kalo ngomongin masalah doyan uang, nggak cuman pejabat aja kok yang doyan.. Saya juga doyan tu, banget malahan…:D *kabuuurr*


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: