Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa…

written by: Bayu Gawtama

Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu
Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak …?”
Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi.

Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

“Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan …,” gumamku.

“mmm …, Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.

“Ya dik, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh

“Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap kearahnya.

“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.”

Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya, “Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.

“Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.
Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”

“Jadi …,” belum sempat kuteruskan kalimatku,

“Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”

“Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.
Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi.
Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar …

kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?

“Wah, nggak ada kembaliannya dik…”

“hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya …”

Saya jadi teringat seorang teman di Kelompok Kerja Sosial Melati, ia punya motto hidup yang sederhana, “Kami Peduli”.

Advertisements

2 Responses so far »

  1. 1

    Puasa membuat seolah olah kita dibungkus privilege kebanggaan tanpa harus tahu esensinya, meminta orang menghormati bahkan bisa memaksa orang mengikuti cara hidup kita. Karena puasa ribuan penjaja makanan harus kehilangan mata pencariannya, karena puasa ribuan pekerja malam harus kehilangan tambahan upah..Saya jadi ingat percakapan dengan Pak Yusuf ( editor dan pemilik penerbit Hasta Mitra, yang pertama kali menerbitkan buku buku Pramodya secara bawah tanah jaman orde baru ). Ia juga bersama Pram menghabiskan waktu di Pulau Buru. Suatu ketika ia ditegur oleh seorang menantunya, kenapa ia tidak berpuasa. Seketika ia berkata bahwa jangan mengajari bagaimana bapak harus dan bagaimana berpuasa, selama lima belas tahun ia berpuasa, makan sehari sekali dengan apa yang bisa dimakan di pulau itu ( karena pemerintah orde baru memang sengaja tidak memberi makanan dan dibiarkan survive ). Sementara kita hanya berpuasa 15 jam saja…

  2. 2

    ewepe said,

    Katanya pak ustadz sih kita tidak boleh su’udzan(buruk sangka) terhadap orang yang tidak berpuasa. Musti tetap khusnudzan (baik sangka)…(mestinya kalimat bertolak belakang gini gak usah ditulis dua2 nya hehehhe 😀 )

    Bisa jadi yang sedang tidak puasa hari itu sedang ada udzur (halangan) syar’i sehingga memang secara agama diperbolehkan tidak berpuasa…wanita misalnya, tidak perlu kita ceramahin bertubi2 karena makan saat orang lain puasa. Musti ngerti ada “fasilitas” khusus wanita tiap bulannya…
    Juga orang2 yang pekerjaannya mengharuskan dia berbuka lebih awal karena kepayahan, orang – orang yang musafir dapat kemurahanNya boleh untuk berbuka lebih awal dan orang2 berusia lanjut yang sudah tidak sanggup berpuasa…
    Intinya selama ada udzur syar’i boleh tidak berpuasa namun musti tetap ingat bayar hutangnya 😉

    nah, buat yang sedang tidak puasa… tolong tetap menghormati yang sedang berpuasa… caranya ya dengan makan/ minum atau merokok tidak ditempat umum karena tentunya mengganggu yang puasa…

    Indah khan ya… yang puasa musti menghargai dan khusnudzan terhadap yang tidak puasa dan yang tidak puasa tetap menghargai dan menghormati yang puasa…

    Sejujurnya jadi banyak belajar dari tulisan diatas… betapa miskin ilmu saya


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: