“menuntut ilmu” di LP

Orang – orang bijak mengatakan untuk “menuntut ilmu sampai ke negeri cina”, bahkan ada juga hadits Rasulullah yang menggambarkan pentingnya menuntut ilmu “tuntutlah ilmu dari buaian Ibu sampai ke liang lahat” atau “menuntut ilmu wajib bagi muslim laki – laki dan muslim perempuan”. 😀

Sejak kecil, kedua orang tua selalu menanamkan hal tersebut kedalam benak kita sehingga kita merasa semestinya bisa belajar kapan saja dan dimana saja dan tentang apa saja. It’s a choice… mau belajar hal – hal yang positif, bagus! hal negatif? memungkinkan namun sangat tidak dianjurkan!. Mau pendidikan formal sampai informal pun ada. Bahkan pendidikan informal ini pun sampai merambah keberbagai lokasi. Sekali lagi… It’s a choice!

Seperti halnya belajarnya pesakitan – pesakitan hukum mulai dari yang “kelas teri” sampai dengan “kelas kakap” di Lembaga Pemasyarakatan kita. Oia…mereka belajar sebab mereka juga wajib dan punya hak tetap belajar. Semestinya sih belajar untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan2 nya. Banyak kok yang akhirnya bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik dengan “sempat” berada di penjara bahkan dalam sejarah Islam banyak tercatat ulama – ulama besar ahli filsafat dan tafsir yang berhasil menciptakan karya – kaarya monumental, fantastis dan brilian saat mereka mendekam dalam penjara.

Sayangnya, tidak sedikit juga yang justru berubah menjadi lebih buruk. Kalau sebelumnya mereka masuk dengan label “penjahat kambuhan” atau penjahat “kelas teri” setelah beberapa bulan/ tahun memandang tembok dan terali penjara, mereka seolah mendapat inspirasi untuk naik kelas menjadi penjahat “kelas pindang”, “kelas bandeng”, dll.

Well…It’s a choice!

Contoh kongkretnya seperti yang aku baca di salah satu media di Jatim pagi ini. Terungkapnya pabrik narkoba di salah satu LP di Surabaya adalah bukti nyata adanya pendidikan informal didalam LP. Pendidikan untuk meningkatkan ilmu “mengkerdilkan nilai – nilai moral”, ilmu “meminimalkan nurani dan mengumbar hawa nafsu” dan ilmu “nrimo alias qonaah dalam hidup ini”.

Mungkin sudah banyak ijasah yang dikeluarkan dan sudah banyk alumni yang dihasilkan. Tidak bosan – bosannya mereka mempraktekkan ilmu mereka ditengah masyarakat dan bila gagal mereka akan “pura – pura” tertangkap massa sehingga bisa kembali ke LP untuk ngangsu kawruh lagi dari guru2 mereka. Bonyok sedikit juga gak masalah toh dapat tempat tinggal gratis, makan gratis, bisa santai2 dari pagi sampai malam dan syukur2 nantinya bisa ambil “doktor” di salah satu bidang ilmu diatas.😀

Kenapa sih mereka gak kapok masuk LP? Apa ada yang salah dengan sistem manajemen LP? Wis emboh… biar yang pinter – pinter aja yang menjawab. Pastinya sih ada yang salah saat seorang pesakitan masuk kedalam LP tidak menjadi lebih baik tapi malah menjadi “penyakit”…

world in my words:

Semuanya adalah pilihan. Pilih fujuur atau taqwa itu terserah anda. Namun, musti diingat semua ada konsekuensinya! Baik didunia maupun dikehidupan sesudahnya. Orang baik pun bisa jadi begitu buruk dan sebaliknya orang jahat malah bisa jadi pahlawan.

It’s a choice bukan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: