ketika ayah merdeka dari utang…

Bismillah…

Sore itu, ayah gembira sekali. Setiap orang dia salami dan dipeluk (tentunya yang sejenis dan muhrim saja, kalau semua orang dipeluk bisa remuk dihajar massa😀 ). Sambil menyalami orang2, ayah membisikkan kabar gembira bahwa ia telah merdeka!…”hah?”, orang – orang pada bingung. “Merdeka dari utang”, kata ayah dengan pancaran wajah penuh rasa syukur padaNya.

Utang nih bercikal bakal dari adanya musibah yang sangat huueeebat. Terhebat sejak sejarah hidup nenek moyang kami. Suatu musibah yang tidak pernah diduga akan menghampiri kecamatan kami yang kata orang – orang gemah ripah loh jinawi, semua ada dan dipunyai. Bahkan, banyak kecamatan – kecamatan lainnya iri melihat keserbacukupan kami.

Asal muasalnya disuatu hari bulan November th 1997, Om Soris, pengusaha besar lulusan universitas ternama di israel (la’natullah) datang ke kecamatan kami dan membeli semua pupuk yang tersedia. Intinya semua sak pupuk ngumpul di gudangnya dia. Kata Mang Diman, penjaga gudang, bos Soris nggak bakalan ngeluarin nih barang kecuali harganya dah naik berkali-kali lipat. “Lho masa sih harga pupuk bakal naik? sepanjang sejarah harga pupuk tuh paling mahal ya cuman dua ribuan” pikir warga. “Sinting mungkin dia”,tambah seorang pemuda. “Maklum banyak duitnya, sok kuasa”, umpat yang lain.

Ternyata bukan sinting bukan juga stress, tapi bos Soris sudah dapat info dari “intelijen”nya di pasar kalau harga pupuk memang bakalan naik. Nggak tanggung2, naik minimal 7 kali lipat dari semula. Itupun masih fluktuatif alias naik turun sesuai maunya si om Soris. Bisa di los bisa ditahan. los, tahan. los, tahan. walhasil, petani pun empot – empotan.

Sampai tahun 1998, semua masih kacau. Tambah parah malah. Kacaunya harga pupuk dipasar berimbas pada kacaunya tabungan dan investasi petani2 di kecamatanku, termasuk juga ayah. Cicilan mesin diesel pembajak sawah, tidak lagi sanggup dilanjutkan. Disitalah akhirnya. Sebagai petani, satu2nya sumber penghasilan adalah bercocok tanam, maka dengan nekat ayah meminjam uang kepada lintah darat meskipun dia sudah melihat banyak teman2 nya yang jadi sekarat dan stressnya kumat karena tagihan bunganya yang bikin leher terikat. Erat😦 . “Hekkkk!!!!” ….

Terbukti!. Harga pupuk yang tidak karuan tidak dapat diraih oleh uang utangan ayah. Gagal panen, utang menumpuk. Saat jatuh tempo tiba, ayah jadi kesetanan. Setiap ada tawaran pinjaman dari lembaga sosial, bank, koperasi, rentenir, cukong, lintah darat, orang kaya opportunis; semuanya dicoba guna melunasi bunga hutang dengan cara yg lazimnya disebut gali lubang tutup lubang. Oia, dicatat ya ini baru bayar bunganya aja. Hutangnya? belum blass!…

Rentenirpun akhirnya malas kasih pinjaman lagi dan udah mulai habis kesabarannya. Secara arogan, mereka menyuruh ayah menjual satu persatu harta yang dipunyai. Disuruh jual tivi 24 inch yang cuma satu2nya, ya dijual. Disuruh jual tape compo, ya dijual. Disuruh jual mesin jahit, ya dijual. Disuruh jual kambing, ya dijual. Pokoknya nurut, kalau nggak nurut bisa disuruh ngelunasin utang saat itu juga, bisa dijual nih rumah. Paling parah, mereka juga minta celenganku dan adik2 ku yang dari tanah liat berbentuk ayam jago. Kita tidak bisa apa-apa. Nurutttttt aja. Trus denagn santai mereka gabungin (istilah bekennya merger-in) tuh celengan jadi satu biar mereka gampang memonitor isi celenganku dan adik2 ku. Kalau isinya banyak bisa segera diambil isinya.

Bertahun – tahun kondisi ini berjalan. Ada juga yang kasian lihat nasib kami dan berikan sumbangan sukarela. Lumayan besar, tapi begitu sampai dirumah ternyata hanya tinggal separuhnya dan kertas dengan tulisan “maaf, dipotong untuk keperluan administrasi kecamatan”. “Halah…kebangetan!”, teriak ayah sejadi – jadinya.

Akhirnya suatu hari, selepas ayah shalat tahajjud dengan sujudnya yang sangat lama guna mohon bantuanNya, ayah teringat satu hal. Surat wasiat dari orangtuanya tercinta. Inilah jurus pamungkas ayah. Diangkatnya kasur dan diambilnya map berwarna hijau. Berbinar mata ayah melihat isinya. Surat kepemilikan atas 7 ekor sapi di peternakan yg ada di kecamatan lain (emang ada surat gituan? -hush..udah baca aja! (redaksi)).

Langsung ayah menjual 5 ekor sapi yang ada dan melunasi semua hutangnya sampai bunga – bunganya. Bujuk rayu rentenir untuk membantu membiayai pembelian mesin traktor ditolak mentah – mentah apalagi tawaran mereka untuk membiayai pernikahan ayah yang kedua. “Gundulmu!”, kata ayah sewot. Ayahku nggak menolak poligami, karena poligami adalah syariat dan salah satu solusi kemaslahatan ummat. Tapi gimana bisa adil dengan kondisi gini? dasar rentenir, gak becus mikir!

2 sapi yang teryata sejoli itulah yang saat ini berjasa besar membantu perekonomian makro keluarga. Sedikit demi sedikit, rumah mulai terisi lagi dengan barang – barang. Spring bed, kipas angin, tape compo, TV, PS3,…(eh nggak ding, gak mungkin bisa beli PS3, masih 10 jutaan gila!😀 ). Paling penting adalah, sekarang aku dan adik2 ku masing – masing punya tabungan sendiri. Bentuknya buku rekening, nggak lagi pakai celengan. Ntar bunga hsik riba banknya gak usah diambil (gitu kata ayah), hitung tabungan pokok kamu saja (itu tambahannya).

Sampailah dihari ini lagi. Ayah yang menggelar syukuran dirumahnya diminta untuk membeberkan rahasia suksesnya kepada warga lain. Eh ternyata nggak ada yg tertarik. Lha wong mereka sudah lebih dulu merdeka dari utang kok!… ayahku aja yang nggak selesai2 krisisnya…sampai jadi krisis multidimensi dalam rumah tangga…(wuiiih).

Never mind, yah. Terpenting sekarang kita sudah merdeka dan semoga ayah tidak lagi tergoda untuk ngutang2 yang nggak karuan. Apalagi utangnya pakai syarat segala. Merdeka itu enak, bisa nentuin nasib sendiri. Biar miskin tapi merdeka. Lebih enak lagi, walaupun kaya tapi merdeka. Amiiiin.

PS: Bila ada kemiripan kisah, mohon maaf ya. Ini juga bukan kisah pribadi kok. Fiksi aja. Terinspirasi oleh “komedi romatis” Bangsa Indonesia dan pers conference nya Pak SBY soal lunasnya utang Ri ke IMF. Semoga tidak ngutang2 lagi ya… biar generasi berikutnya tetap…MERDEKA!

4 Responses so far »

  1. 1

    yanti said,

    assalammualaikum,..

    akhirnya setelah sedikit paksaan dari mbak sofi wtc, akhirnya ikutan juga baca wordpress..

    mas erik selain bikin RO juga bisa bikin webblog juga..plok…plok…

    waalaikumsalam..

    ps. tetp nulis yach.

  2. 2

    ewepe said,

    hihihi..
    Mbak Yanti, thanks for visiting my blog.

    Coba deh bikin juga…banyak manfaatnya lho😀

    Trus terakhir, sering2 berkunjung ya…AWAS kalo nggak! (gantian aku yg ngancam)😀

  3. 3

    bung bung said,

    omong di omong, nih ceritanya alur mundur yak. abis paragraf 2nya taon 2007, eh trus muncul taon 2008 belakangan, hehe..

  4. 4

    ewepe said,

    Weih iya…beribu thank u ya dah diingetin (langsung diedit lagi😀 )..maksudnya sih dari hari ini, trus flashback th 1997 trus 1998…trus balik lagi ke sekarang gitu…hehehhe


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: