reminder fr ghaida…

Bismillah…

Kedua puisi ini aku ambil dari bulletin board milik Ghaida Hapsiana, temanku di friendster. Sekilas melihat kedua puisi ini yang ditemukan adalah kesedihan yang muncul namun tidak ingin ditampakkan. Ketegaran yang ditunjukkan dengan pilihan kata2 yang sederhana namun mengena (sok tahu 😉 ), menunjukkan bahwa puisi ini bukanlah fiksi imajinasi. Puisi ini adalah kata hati… terungkap dari getir hati yang yang mendamba pada suatu kejelasan. (tambah sok tahu 😀 ).

Kejelasan terhadap apa? Wallahu a’lam. Penulislah yang tahu… tapi bila benar apa yang kurasa dari membacanya, maka beruntunglah seseorang itu… you know lah maksudku?!

*puisi pertama* 

by: Ghaida 

Maaf, aku tak mau memanggil kesedihan itu
Karena dia tetap berlabuh
Walau tak pernah disuruh
Dia akan tetap datang
Walau tak pernah diundang

Maaf, aku juga tak mengenal perpisahan itu
Karena yang aku tahu, dibelakang pertemuan
Adalah pengenalan, adalah kedekatan
Adalah harmonis, adalah manis

Kalau ada pahit asam
Itupun hanya bumbu pengisi keadaan
Yang harus tetap ada demi keseimbangan

Tapi aku tidak mengenal perpisahan!

Maaf, bila kau katakan
Karena ada yang ditinggalkan
Itu jadi perpisahan
Sesungguhnya setiap detik kita ditinggalkan
Oleh waktu yang berjalan pelan
Namun tak pernah menengok kebelakang

Jadi, ditinggalkan itu bukan perpisahan!

Kalau perpisahan itu karena berjauhan
Sesungguhnya, yang mengenal jarak
Jauh dan dekat
Hanya tubuh, yang merupakan rangkaian
urat-urat
Tapi jiwa, tetap tak terkurung apapun juga

Dia bisa dekat bila kau ikat
Bisa jauh bila tak pernah disentuh
Dia bisa seperti udara yang bisa panas
Bisa dingin jika kau ingin

Maaf, indah pertemuan
Memang terlalu melimpah
Hingga dia sering disembunyikan

*puisi kedua*

Sepertinya yg ini mencari… mengingatkan hati! Hatipenulis sendiri ataukah bersama seseorang yang diharapkan?… Wallahu a’lam.

Tapi, dengan membaca ini… aku jadi istighfar, sejujurnya… aku baru bersungguh 2 dalam meminta saat akau dalam posisi susah. Sungguh jarang aku bersungguh2 memohon saat dalam bahagia. Ah sungguh sia – sia bila yang diperoleh tiada pernah disyukuri, sedangkan jelaslah dengan mensyukuri akan bertambahlah nikmat kita dan bila sebaliknya… sungguh amat pedih siksaNya. Naudzubillah…

by: Ghaida H 

Ada apa lagi teman?
Kenapa pulang pergi berulang-ulang?
Berlari- lari seperti ingin sembunyi
Atau sekedar mencari kepuasan diri?

Haruskah selalu menunggu gelap
Hingga semua jalan tak tampak
Lalu berharap bulan kembali hinggap?

Haruskah selalu menunggu duka tiba
Untuk kembali mengingatNya?
Haruskah menanti hidup kembali terbata- bata
Baru mencari jalan meminta padaNya?

Haruskah menunggu terus
sampai nafas kita terputus?
Atau terus menanti
Sampai nadi kita berhenti?

Haruskah menunggu masa
Saat kaki kita bercerita
Tangan kita mengisahkan semua?

Haruskah menungu waktu
Sampai kita tak mungkin lagi bertemu?

Aku masih menunggumu!

PS: Ulasannya gak usah diperhatiin…jelas ngaco. Puisinya aja yg dibaca. Indah… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: