desaku “terjual”…

Betapa tingginya harapanku akan bertemu kembali dengan kesejukan dan kesegaran khas suasana desa yang sudah selama 3 tahun tidak aku kunjungi. Berbagai acara refreshing sudah dirancang, mulai dari acara jogging sampai dengan acara memancing dan berendam di sungai…hehehe…

Begitu sampai di benculuk (nih daerah di banyuwangi lho!), segera aku mencari dokar, tunggangan favorit didesaku. Namun, hari itu aku kurang beruntung karena semuanya sudah pada jalan. Ah..padahal baru jam 10 pagi!…

Setelah aku pikir – pikir, aku putuskan naik ojek daripada berjalan. Planning olahraganya khan besok pagi bukan sekarang😀 . Kejutan besar menantiku begitu aku berbelok ke dusun tampo. Terbengong – bengong aku jadinya…

“Lho.. kok?!”. Aku meminta Pak Ojek berhenti.

Sejak melewati gapura (gerbang dusun), aku sudah di”sapa” dengan dua rumah di kanan – kiri jalan yang dibangun tinggi, demikian juga pagarnya dibangun setinggi tiang listrik. Sayangnya, rumah itu suram, kusam dan berbau amis. Dari tempatku berhenti, hanya terlihat lubang besar berbentuk persegi didekat atap rumah…

Aku putuskan untuk berjalan kaki sambil melihat desaku yang sudah tidak lagi aku kenali.

Sampai akhirnya aku sampai didepan rumah, yang juga sudah berubah suasananya. Tidak ada lagi kebun pisang disamping rumah milik Pakde Mat, tidak ada juga pohon blimbing yang selalu aku panjat dan aku nikmati buahnya yang masak. Tidak ada lagi pohon kelor yang daunnya bisa dijadikan sayur yang segar. Tidak ada lagi…

Tidak ada lagi yang sama dengan gambar desa di ingatanku. Benarkah ini desaku? tempat dimana aku dilahirkan selepas orang desa turun dari shalat iedul adha 25 tahun lalu. Tempat dimana ibuku menangis kebingungan mencariku saat Budhe Ah membawaku berjalan – jalan ke ujung desa saat Ibuku sedang mandi…

Tidak sama! Semuanya sudah berbeda!.

Sekarang rumah – rumah menjulang tinggi, berdinding tebal, berwajah kusam menghiasai desaku. Rumah – rumah yang justru dibangun hanya untuk didiami oleh walet – walet yang sebelumnya memiliki rumah dialam bebas. Tidak lagi dijumpai suasana kekeluargaan dan kebersamaan disana seiring berkurangnya jumlah penduduk desa karena pemilik rumah berdinding tinggi itu hanya akan datang sebulan sekali untuk membayar upah orang – orang yang menjaga rumah dan mengontrol sarang walet yang ada…

I really hate them! karena mereka telah membuat desaku “terjual”.

Sekarang kalau pulang kesana dan aku harus naik ojek, aku tinggal bilang kepada tukang ojek yang tidak tahu dusun tampo. “Itu lho mas, dusun yang banyak rumah waletnya!”…sumpah! pasti mereka tahu benar dusun itu!

Nb:

Apakah anda mengalami hal yang sama? I hope not…

1 Response so far »

  1. 1

    rudigran said,

    Iya kesian sih desanya hilang, tapi kan untungnya banyak investor yg datang, untuk menanamkan uangnya dan menghidupkan perekonomian disana, ya optimis ajalah dengan kemajuan jaman dan perubahan, itu pan namanya kehidupan, emangnya bayi terus, orang juga berubah jadi dewasa dan tua………lumayan pan desanya jadi desa walet, walet mendatangkan investor dan menambah penghasilan desa


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: