Polling Presiden RI

Comments (5) »

Obama’s Oath & Inaugural speech

Barack Hussein Obama, orang yang paling ditunggu – tunggu dunia saat ini. Sebagai presiden AS terpilih ke-44, Obama juga menorehkan banyak sejarah baru dalam pelantikannya. Mulai dari sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama di AS sampai ke pesta pelantikannya yang konon  mencapai USD 150 juta ataus etara dengan Rp. 1,7 triliun. cmiiw)

Semua orang tentunya ingin melihat, mendengar dan memahami apa yang akan disampaikannya setelah dilantik menjadi presiden. Termasuk rencana kerja dan tentu saja pandangan Obama terhadap dunia Islam, terorisme dan israel la’natullah (yg ternyata setelah dibaca nggak seperti yang diharapkan- hanya statement bahwa pemerintahan Obama mengharapkan kerjasama yg lebih baik dans aling menguntungkan kedepannya-) . Mari kita simak bersama…

WASHINGTON – My fellow citizens,

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents. So it has been. So it must be with this generation of Americans.

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land — a nagging fear that America’s decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America — they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted — for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things — some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.

Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; Read the rest of this entry »

Comments (1) »

…Palestina, we care…

Ekspresi dari seorang penyanyi Amerika untuk membangkitkan semangat saudara2 kita di Palestina.. menyadarkan kita, kenapa Michael Heart (www.michaelheart.com) saja peduli dengan lagunya “we will not go down” …lalu kita berhenti peduli?

ketik MERC PEDULI kirim ke 7505   Rp.5rb,- buat beli obat utk rakyat Palestina (dibelikan peluru buat perang lawan Zionis, jg gpp).

Israel saja tidak berhenti membunuh, lalu kenapa kita berhenti peduli (BMH)

klik disini untuk download lagu we will not go down (GAZA) karya Michael Heart.

Leave a comment »

…Perampokan TERBESAR abad ini!!!

Apakah perampokan TERBESAR abad ini?

Uang???… Bukan!

Emas???… Bukan!

Harta???…Bukan!

Saham???…Bukan!

Inilah perampokan terbesar abad ini…

-          Perampokan tanah yang luar biasa luasnya..

-          Penjajahan yang luar biasa lamanya..

-          Pembantaian yang luar biasa kejinya..

 

Yah, inilah invasi Zionis Israel ke Bumi para nabi, Palestina…

pencuri-negara

Leave a comment »

… barakallahu …

 

duahati2

Me & Nitha @ 20 Desember 2008

Comments (1) »

Indiana Jones

Written by : Ruli Amirullah
 
Assalamualaikum Wr Wb,
 
Dear all,
Setelah bertahun-tahun, akhirnya keluar juga film Indiana Jones terbaru. Wuah, itu film favorit saya waktu kecil. Petualangan mencari benda-benda kuno, menembus belantara ataupun padang pasir. Bagi saya seru. Tapi setelah menonton Indiana Jones yg terbaru, bisa dibilang agak sedikit kecewa. Soalnya ternyata tidak seheboh yang saya bayangkan. Dari segi cerita bagus, tapi dari dulu memang bagus seperti itu, alias tidak ada sesuatu heboh yang baru. Dan dari segi teknologi, juga tidak terlalu istimewa jika kita lihat bahwa dibelakang film itu ada George Lucas (Star Wars Trilogy) dan Steven Spielberg ( Jurassic Park). Tadinya saya membayangkan tontonan dengan teknologi canggih dan terbaru, khas dari mereka berdua, bukan sekedar jalan cerita yang menarik.
 
Walaupun demikian, setelah melihat film itu, saya jadi kembali tertarik akan teknologi bangsa Aztec. Kagum akan keahlian mereka dalam membangun piramida dan bagaimana mereka mempelajari ilmu perbintangan. Yang membuat saya jauh lebih tertarik lagi, adanya relief di bangunan-bangunan mereka yang melukiskan “sesuatu” berbentuk seperti pesawat terbang ataupun astronot. Untuk lebih lanjut mengetahui tentang Aztec, sayapun browsing di internet. Sekedar info, saya memang tertarik pada budaya-budaya kuno. Mesir kuno, Babylonia, Sumeria, Aztec, Maya dll. Mengapa? Karena saya heran, ribuan tahun sebelum masehi, mereka sudah mampu membangun sebuah peradaban yang besar, dengan kemampuan teknologi dan pengetahuan yang misterius. Dan kemudian heran juga, bahwa semua peradaban besar itu kemudian runtuh, lenyap sehingga tidak melakukan “transfer pengetahuan” kepada penerusnya.
 
Pencarian bangsa Aztec di internet, ternyata membawa saya jauh ke peradaban ribuan tahun sebelumnya. Sebuah peradaban yang masih perdebatan sampai sekarang. Atlantis? Bukan, bukan cuma Atlantis. Tapi juga pada seterunya bangsa Atlantis, yang peradabannya dimulai sebelum Atlantis, yaitu Bangsa Lumeria..
 
Wah apalagi tuh??
 
Hehe, tapi tulisan saya ini bukan untuk membahas Bangsa-bangsa yg hilang itu kok. Bisa jadi mirip dongeng nantinya tulisan ini (tapi bagi yang ingin tahu lebih lanjut dengan peradaban Lumeria, silahkan cari di search engine dengan keyword ‘lumeria’, insya Allah akan menemukan banyak hal menarik disana) Sekedar info, ada anggapan bahwa mereka berdua adalah bangsa dengan teknologi tinggi. Perbedaannya, Atlantis lebih maju di bidang militer dan gemar berperang, sementara Lumeria memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan lebih memilih jalan damai. Menarik ya? Lebih menarik lagi, dugaan  tentang adanya dua bangsa ini ditarik dari catatan-catatan kuno bangsa Aztec dan India! (ingat epik Mahabrata dan Baratayudha? Konon cerita itu sebenarnya adalah cerita sejarah tentang Atlantis dan Lumeria)…
Oke, kita lewatkan kedua bangsa itu. Mari kita baca ayat berikut:
 
Katakanlah:”Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-oramg yang dahulu.Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.
(QS. Ar Ruum:42)
 
Lihatlah, di dalam ayat diatas, kita diminta untuk mengadakan perjalanan dimuka bumi. Dimuka bumi. Berarti tidak sebatas di satu wilayah saja. Bisa wilayah timur tengah (tempat peradaban besar seperti Byzantium, Persia, Mesopotamia berdiri), bisa wilayah Amerika (dimana bangsa Aztec kuno mencapai kejayaan tertingginya), atau di wilayah Afrika, China dan tempat-tempat lainnya. Dimuka bumi, berarti juga tidak sebatas di daratan saja. Kalau perlu di dasar laut! Karena bisa jadi ada peradaban kuno yang kini tenggelam di dasar laut.
Mengapa kita perlu mengadakan perjalanan dimuka bumi? Disebutkan dalam lanjutan ayat itu, bahwa kita perlu mengadakan perjalanan dimuka bumi agar kita memperhatikan kesudahaan orang-orang terdahulu. Nah, jelaslah, bahwa ada pelajaran penting dalam akhir sebuah peradaban dari bangsa-bangsa terdahulu.
Masih diayat yang sama, disebutkan bahwa kebanyakan dari orang-orang terdahulu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah. Mungkin karena dosa itulah yang akhirnya membuat mereka musnah. Apalagi jika kita perhatikan beberapa ayat berikut:
 
Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.
(QS. An Nisa:133)
 
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
(QS. Al An’aam:44)
 
Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
(QS. Al An’aam:45)
 
Menarik bukan? Al Quran menjelaskan bahwa memang umat-umat terdahulu, dimusnahkan karena sikap mereka yang melupakan peringatan-peringatan Allah. Dan untuk beberapa umat, memang dengan gamblang di tuliskan di Al Quran bagaimana mereka dimusnahkan, seperti kaum Tsamud, umat Nabi Luth, umat Nabi Nuh dan masih banyak lagi. Mereka ada yang diazab dengan banjir besar, gempa dahsyat, suara halilintar yang begitu menggelegar. Dan kejadian yang menimpa mereka, seharusnya memang menjadi peringatan bagi kita, umat sekarang, dalam menjalani hidup kita kini..
 
Umat sekarang?
Ya!
Kita adalah umat yang sekarang. Umat yang dikatakan sebagai umat yang terbaik. Saya kemarin mengikuti training marketing yang mengawali materinya dengan membahas tentang umat yang terbaik ini. Trainer tersebut, Bapak Haikal Hassan, mengingatkan pada kami semua bahwa kita adalah umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia. Hmm.. terus maksudnya apa?
Oke, untuk mudahnya, mari bayangkan, bila kita mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik di kantor, apa perasaan kita? Tentu girang sekali, apalagi bila Direktur Utama sampai mengumumkan hal itu ke seluruh staff dan manajemen. Bangga banget ya, kebayang mungkin besoknya kita akan melangkah di kantor dengan kepala mendongak ke atas. Dan kita akan semakin semangat bekerja. Ya kan?
Nah, sekarang coba bayangkan lagi, apa perasaan kita bila Gubernur DKI Jakarta mengatakan kepada seluruh wartawan yang hadir di kantor gubernur, bahwa ia sebagai gubernur Jakarta sanggat bangga akan diri anda, dan menganggap anda sebagai warga Jakarta yang paling terbaik. Dan kemudian esoknya, wajah kita muncul di koran-koran nasional dengan judul besar-besar “INILAH WARGA JAKARTA TERBAIK”. Waaah, mungkin bukan girang lagi, tapi perasaan kita sudah terbang tinggi. Besok-besoknya, bisa jadi kita semakin bersemangat memberikan yang terbaik bagi Jakarta.
Seneng yah..
Sekarang, bayangkan bila Presiden Republik Indonesia, dengan diliput seluruh media massa, siaran langsung dari Istana Negara, mengumumkan bahwa Negara sangat bangga mengangkat kita sebagai warga Negara terbaik…
Bukan terbang lagi.. tapi sudah entah kemana perasaan kita….
Dan kemungkinan besar kita akan menjadi seorang yang semakin sangat peduli dan bangga pada Negara Republik Indonesia..
 
Nah sekarang, coba baca ayat berikut..
 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
(QS.Ali Imran:110)
 
Siapa yang mengatakan hal itu?
Siapa yang mengatakan bahwa kita umat yang terbaik?
Direktur? Gubernur? Presiden? Bukan. Bukan mereka yang mengatakan. Tapi “atasan” dari mereka semua. Yang Menciptakan kita semua yang mengatakan itu. Yang Maha Akbar yang mengatakan itu…
Bayangkan. Allah SWT, mengumumkan kepada seluruh ciptaannya, kepada seluruh mahlukNya, kepada seluruh jajaran malaikatNya, kepada alam semesta, dan tertuang abadi dalam Al Quran, bahwa kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..
 
Can you imagine that?
 
Kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…
 
Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai umat yang terbaik?
Baca aja lanjutan ayatnya, yaitu menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..
Simple kan? Tapi itu benar-benar suatu amanah yang besar buat kita. Dan seringnya malah kebalik. Untuk mengajak orang kepada yang tidak benar, lebih sering kita lakukan dibanding mengajak orang ke arah yang benar. Mengapa? Karena kalau mengajak kepada kebenaran, kita sering takut dianggap sok alim. Sementara kalau mengajak ke yang tidak benar, gampang-gampang aja, soalnya malah dianggap gaul dan keren. Iya kan? Hehehe..
 
Padahal, bila berhasil mengajak orang kepada kebenaran, itu pahalanya begitu besar, sampai ‘hitungan’ pahalanya pun disembunyikan oleh Allah. Ada hadist yang mengatakan, ‘Apabila Allah memberi hidayah pada seseorang melalui kita, maka yang akan kita terima adalah lebih dari apa yang diberikan Matahari pada dunia sejak terbit hingga tenggelam’.. Wah, besar banget kan?
 
Jadi, apa lagi sih yang kurang? Kita sudah diberi penghargaan oleh Allah langsung, dengan menyebut kita sebagai umat terbaik. Kita juga sudah di beri motivasi dengan sesuatu yang begitu besar…
 
Mari bergerak mulai sekarang, mari menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar. Kita juga masih belum benar? Menurut saya gak apa-apa, kita bersama-sama aja dengan yang kita ajak menuju kebenaran. Toh kita memang bukan kyai bukan? Suatu saat kita yang mengingatkan teman, suatu saat teman yang mengingatkan kita. Pakai cara-cara simple aja dulu, misalnya nyebarin email-email yang bermanfaat, ikut dan mengajak orang-orang pada kegiatan-kegiatan yang positif, bikin-bikin blog yang isinya kumpulan tulisan bagus dan memotivasi, atau apalah… mungkin juga sekedar mengingatkan orang akan kasih sayang Allah, jadi saat ada yang curhat tentang masalah, ingatkan ia bahwa semua itu justru karena Allah sayang dengan kita..
 
So, mari mulai melangkah..
Mengajak orang pada kebenaran..
Mencegah orang pada kemunkaran..
Karena kita adalah umat yang terbaik..  
Have a nice day!

Leave a comment »

Cerita berikut, entah fiksi entah realita… tapi enaknya menganggap ini realita :D

Cerita ini dicomot dari blognya si Adhitya Mulya (yang terkenal itu hohoho ^^ ), tapi dianya juga nyomot dari multiplynya kelompok orang – orang yang suka diskusi : kelompokdiskusi.multiply.com

——————————————————— 

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

“Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu
saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.

“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu.” Halus budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.
“Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya.

“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua ?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.
“Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya…….

——————————————————— 

Comments (2) »

Arti Senyum Peri Cantik…

Peri Cantik,

Lihatlah diseberang samudera

Terbentang indah pelangi tujuh warna

Hantarkan takjub tiada terkira

Hangatkan hati kala berduka

Ceriakan kalbu penuh cahaya 

Peri Cantik,

Sadarkah engkau pelangi itu bagiku hampa

Bila tiada merekah senyum wangi bunga

Tulus hati penuh makna

Dari bidadari yang kupuja

Lalu kenapa engkau bermuram durja?

Akan kemana lagi hati ini mencari cara

Agar senyum tuan putri kembali indah

Dan pelangi kembali berwarna…

Comments (1) »

to: My Cute ‘lil Butterfly

butterfly

Karena dalam matanya ada cahaya
menerangi pekatnya tepian jiwa
karena dalam senyumnya ada mata air
menentramkan hati saat galau bergulir
karena dia ada sebagai anugerahNya
entah apa lagi yang perlu kudamba

Comments (2) »

Perangkap Tikus…

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan  dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”  

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah…. di rumah sekarang ada perangkap tikus….”  

Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”. Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”  

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati… tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”  

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”  

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata “Ahhh… Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”  

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.  

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.  

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.  

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.  

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.  

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.  

Dari kejauhan… Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.  

SO… SUATU HARI… KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA… PIKIRKANLAH SEKALI LAGI.

Comments (1) »