<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>world in my words &#187; words of heart</title>
	<atom:link href="http://ewepe.wordpress.com/category/words-of-heart/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ewepe.wordpress.com</link>
	<description>Memandang dunia dari sebuah kacamata</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Apr 2009 07:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ewepe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d2408e1edb49deabe515074b880e3033?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>world in my words &#187; words of heart</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ewepe.wordpress.com/osd.xml" title="world in my words" />
		<item>
		<title>to: My Cute &#8216;lil Butterfly</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2008/01/26/indonesiaim-back/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2008/01/26/indonesiaim-back/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 07:49:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[
Karena dalam matanya ada cahaya
menerangi pekatnya tepian jiwa
karena dalam senyumnya ada mata air
menentramkan hati saat galau bergulir
karena dia ada sebagai anugerahNya
entah apa lagi yang perlu kudamba
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=147&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p><a href="http://ewepe.files.wordpress.com/2008/01/butterfly.jpg" title="butterfly"><img width="80" src="http://ewepe.files.wordpress.com/2008/01/butterfly.thumbnail.jpg?w=80&#038;h=62" alt="butterfly" height="62" /></a></p>
<p>Karena dalam matanya ada cahaya<br />
menerangi pekatnya tepian jiwa<br />
karena dalam senyumnya ada mata air<br />
menentramkan hati saat galau bergulir<br />
karena dia ada sebagai anugerahNya<br />
entah apa lagi yang perlu kudamba</p></blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/147/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/147/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=147&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2008/01/26/indonesiaim-back/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ewepe.files.wordpress.com/2008/01/butterfly.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">butterfly</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bidadariku&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2007/08/08/bidadariku/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2007/08/08/bidadariku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 12:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2007/08/08/bidadariku/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, setibanya dari kantor, tidak seperti biasanya barisan buku &#8211; buku di ruang tamu berhasil mengundangku untuk mendekat. Selain hampir seluruh buku sudah pernah dibaca ditempat itu juga biasanya kacamataku tergeletak, tapi saat ini kacamataku tergantung menghiasi mukaku. Jadi apa yang menarik?
Bola mata ini melirik secara teratur dari kiri ke kanan, melihat rangkaian kata &#8211; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=104&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://ewepe.files.wordpress.com/2007/08/duahati2.jpg" title="dua hati"></a>Kemarin, setibanya dari kantor, tidak seperti biasanya barisan buku &#8211; buku di ruang tamu berhasil mengundangku untuk mendekat. Selain hampir seluruh buku sudah pernah dibaca ditempat itu juga biasanya kacamataku tergeletak, tapi saat ini kacamataku tergantung menghiasi mukaku. Jadi apa yang menarik?</p>
<p>Bola mata ini melirik secara teratur dari kiri ke kanan, melihat rangkaian kata &#8211; kata yang disusun menjadi judul &#8211; judul buku&#8230;masih ada dua jam sampai jam tidur. Buku apa yang bisa menemaniku menghancurkan kebosanan namun tetap bisa menambah ilmu?</p>
<p>Ah&#8230; buku dengan cover berwarna kuning keemasan itu menghentikan gerakan mata untuk mencari. Best Seller Nasional karya Habiburrahman El Shirazy, <strong>Ayat &#8211; ayat Cinta. </strong>Ringan dibaca namun sarat makna. Banyak materi religi dibungkus dengan bumbu percintaan penuh perenungan.</p>
<p>Terpikir untuk membaca pada bagian favorit dimana Fahri dipertemukan dengan Aisha melalui majelis khitbah. Lembar demi lembar kulewati untuk menemukan bagian favorit itu. Eit.. tanganku berhenti membolak &#8211; balik halaman novel pembangun jiwa saat kukira telah sampai dilembar yang kucari. Bukan!.. belum sampai ternyata.. tapi walau demikian mata ini tetap sekilas membaca untuk mengetahui sampai dimana lembar novel ini terbuka. Ah ada yang menarik hatiku rupanya. Membacanya membuatku merenung dan memuji bagaimana rumitnya salah satu misteri yang dituliskan Habiburrahman El Shirazy dalam halaman ini. Ditulis begini:</p>
<blockquote><p><font color="#ff99cc">Bidadariku,</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Namamu tak terukir</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Dalam catatan harianku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Asal usulmu tak hadir </font></p>
<p><font color="#ff99cc">Dalam diskusi kehidupanku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Wajah wujudmu tak terlukis</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Dalam sketsa mimpi &#8211; mimpiku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Indah suaramu tak terekam</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Dalam pita batinku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Namun kau hidup mengaliri</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Pori &#8211; pori cinta dan semangatku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Sebab, Kau adalah hadiah agung</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Dari Tuhan</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Untukku</font></p>
<p><font color="#ff99cc">Bidadariku</font></p></blockquote>
<p>Indah sekali terasa. Mungkin karena akhir &#8211; akhir ini perasaan sendiri ini mulai terasa memuakkan dan kesadaran cepatnya waktu berputar ini begitu terlambat datangnya.</p>
<p>Bidadariku, entah dimana dan kapan akan berjumpa. Misteri ini tidak mudah. Penuh dengan rangkaian cara dan warna &#8211; warna kebesarnNya. Semua serba indah bila mengikuti ketentuannya dan semua serba barakah bila mengikuti sunnah rasulNya.</p>
<blockquote><p>Bidadariku,</p>
<p>kesendirian ini menyesakkan</p>
<p>memenuhi rongga hati</p>
<p>membuatku tak dapat lagi mengisikan ketenangan</p>
<p>mengisikan kebahagiaan</p>
<p>mengisikan keceriaan</p>
<p>karena aku tahu</p>
<p>ketenangan, kebahagiaan dan keceriaan itu</p>
<p>hanya akan bisa terisikan</p>
<p>di rongga hati lain</p>
<p>rongga hatimu wahai bidadariku</p></blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=104&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2007/08/08/bidadariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(untuk) Ytc. di Jabodetabek</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2007/02/05/untuk-ytc-di-jabodetabek/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2007/02/05/untuk-ytc-di-jabodetabek/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Feb 2007 02:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2007/02/05/untuk-ytc-di-jabodetabek/</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum Wr Wb 
Ytc,Ikhwan wa akhwat fillah, Saudara/i, sahabat, rekan dan teman Di Jabodetabek 
Maha Besar Allah yang menentukan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya. 
Ikhwan wa akhwat fillah, Insya Allah tidak perlu kami mengingatkan bahwa Allah tidak akan membiarkan seorang hambanya berkata ”kami telah beriman”, melainkan Allah akan memberikan cobaan kepadanya untuk membuktikan dan meneguhkan iman mereka. Cobaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=77&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Assalamu’alaikum Wr Wb</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Ytc,</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Ikhwan wa akhwat fillah, Saudara/i, sahabat, rekan dan teman </span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Di Jabodetabek</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Maha Besar Allah yang menentukan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Ikhwan wa akhwat fillah, Insya Allah tidak perlu kami mengingatkan bahwa Allah tidak akan membiarkan seorang hambanya berkata ”kami telah beriman”, melainkan Allah akan memberikan cobaan kepadanya untuk membuktikan dan meneguhkan iman mereka. Cobaan pada rizki, harta dan juga keluarga&#8230;</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Wahai saudara dan saudariku. </span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Yup, ini adalah cobaan! Cobaan yang berat dan bahkan mungkin ada yang merasakan sebagai cobaan yang maha berat. </span></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Bohong bila kami berkata kami mengerti begaimana dalamnya duka yang antum rasakan, kesedihan yang menggelayut dan <span> </span>kehilangan yang tak tertahan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Sahabat, m</span></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">arilah kita ingat kenapa Ia memberi cobaan. Salah satunya karena Ia cinta sekali padamu&#8230;sangat merindukan tangis dan rintihan harapmu dalam derai do’amu saat memohon kemurahanNya&#8230;Allah sangat merindukan itu. Oleh karenanya, Allah hanya kan memberikan cobaanNya sebatas yang hambaNya mampu memikulnya karena Allah tidak akan pernah sekalipun mendhalimi hambaNya. </span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Rekan dan teman. S</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">ekali lagi, dusta besar bila kami telah melakukan banyak hal untuk meringankan beban penderitaanmu. Besar kemungkinan saat ini kami hanya mampu takjub dengan derasnya aliran banjir dari sungai Cisadene, tingginya banjir didaerah yang katanya elit. Kami juga hanya mampu mengucap kata ”kasihan ya” saat kameramen mengarahkan lensanya menyorot banyak teman yang belum terevakuasi dan berjuang melawan dinginnya air hujan dan kelaparan.</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Afwan, maaf; </span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">saudara/i, shabat, rekan dan teman</span><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"> </span></span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Minimal, ijinkan kami bersimpati ditengah keterbatasan yang ada. Ijinkan kami untuk membantu juga lewat do’a yang merupakan senjata utama umat beragama. </span></p>
<blockquote>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">”Semoga Allah SWT, dengan segala ketetapanNya yang terbaik bagi hambaNya, membukakan pinta ampunanNya bagi kita semua. Semoga dengan segala kemurahanNya, segera diangkat cobaan ini dari pundak kita semua. Semoga dengan ke-Maha Rahim-an yang dimilikiNya, digantikan segala kesabaran, ketabahan, khusnudzan dan kecintaan kita semua padaNya dengan balasan yang jauh lebih baik.” </span></p>
</blockquote>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:'Courier New';">Amin ya Rabbal ’alamiin</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=77&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2007/02/05/untuk-ytc-di-jabodetabek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kupinang engkau karena Dia</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/17/kupinang-engkau-karena-dia/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/17/kupinang-engkau-karena-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 10:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2007/01/17/kupinang-engkau-karena-dia/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230;
Kupinang engkau
Bukan karena lelah
Tapi karena galau
Bukan karena salah
Tapi ku tak ingin kacau
&#160;
Tak seperti yang engkau kira
Kupinang engkau karena apa
Bukan karena harta
Walau memang ku tak berpunya
Bukan semata wajah
Walau sungguh akupun bukan arjuna
Bukan akibat dunia pastinya
Karna akupun juga pengelana  
Kupinang engkau karena Dia
Dia yang telah memberimu rahmah
Janji teguhmu mencintaiNya sepanjang masa
Dia yang telah memberimu berkah
Mampu mencinta bunda sedemikian rupa 
Kupinang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=73&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bismillah&#8230;</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kupinang engkau</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bukan karena lelah</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tapi karena galau</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bukan karena salah</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tapi ku tak ingin kacau</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><span><font face="Times New Roman">Tak seperti yang engkau kira</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Kupinang engkau karena apa</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Bukan karena harta</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Walau memang ku tak berpunya</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Bukan semata wajah</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Walau sungguh akupun bukan arjuna</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Bukan akibat dunia pastinya</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Karna akupun juga pengelana</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span> </span></p>
<p><span></span><span></span><span><font face="Times New Roman">Kupinang engkau karena Dia</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Dia yang telah memberimu rahmah</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Janji teguhmu mencintaiNya sepanjang masa</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Dia yang telah memberimu berkah</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Mampu mencinta bunda sedemikian rupa</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><span></span><span><font face="Times New Roman">Kupinang engkau karena Dia</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Ikhtiar telah kucoba</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">S</font></span><span><font face="Times New Roman">etelah itu semua kuserahkan padaNya</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Terserah engkau kini wahai purnama</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Apakah engkau bersedia?</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">(office/ sby, 170107)</font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=73&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/17/kupinang-engkau-karena-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tombo ati remake = tombo sepi&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/10/tombo-ati-remake-tombo-sepi/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/10/tombo-ati-remake-tombo-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jan 2007 01:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2007/01/10/tombo-ati-remake-tombo-sepi/</guid>
		<description><![CDATA[Grup nasyid ini kreatif juga membuat Parodi dari nasyidnya Opick yg berjudul &#8221;Tombo Ati&#8221; jadi &#8221;Tombo Sepi&#8221;. So buat-buat kamu yang belum menikah, dengerin deh!!! Walau parodi tapi serius penuh nasehat&#8230;  
Nasyid ini dibawakan di sebuah Temu Remaja di Depok. Nama grup ini Gondes (Gondrong n Desso) para alumni STAN
taken from: YOUTUBE.COM
   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=70&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Grup nasyid ini kreatif juga membuat Parodi dari nasyidnya Opick yg berjudul &#8221;Tombo Ati&#8221; jadi &#8221;Tombo Sepi&#8221;. So buat-buat kamu yang belum menikah, dengerin deh!!! Walau parodi tapi serius penuh nasehat&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nasyid ini dibawakan di sebuah Temu Remaja di Depok. Nama grup ini Gondes (Gondrong n Desso) para alumni STAN</p>
<p>taken from: <a target="_blank" href="http://youtube.com/watch?v=OMwTVqBanXA" title="link to tombo sepi">YOUTUBE.COM</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=70&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/10/tombo-ati-remake-tombo-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Cahaya&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/04/sang-cahaya/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/04/sang-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 09:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2007/01/04/sang-cahaya/</guid>
		<description><![CDATA[Ah disana&#8230; 
Ya&#8230;Itu dia
cahaya terang berpendar indah
Mungkin disana, akhir dari berjuta langkah
yang telah membuatku terlena
Membuatku terantuk, terjatuh, terperosok tiada guna
Ya&#8230;disana
segala harap tertuju
disana, di ujung pandang mata
pendar cahaya itu berada
Tapi, aneh! Semakin ku mendekat tidak juga terdekatkan
 Semakin ku menggapai tidak juga tergapaikan
Semakin ku meraih tidak juga teraihkan
Oh&#8230;pantas saja
cahaya itu tak sendiri
tautan dua cahaya dalam satu pendar abadi
dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=69&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ah disana&#8230; </p>
<p>Ya&#8230;Itu dia</p>
<p>cahaya terang berpendar indah</p>
<p>Mungkin disana, akhir dari berjuta langkah</p>
<p>yang telah membuatku terlena</p>
<p>Membuatku terantuk, terjatuh, terperosok tiada guna</p>
<p>Ya&#8230;disana</p>
<p>segala harap tertuju</p>
<p>disana, di ujung pandang mata</p>
<p>pendar cahaya itu berada</p>
<p>Tapi, aneh! Semakin ku mendekat tidak juga terdekatkan</p>
<p> Semakin ku menggapai tidak juga tergapaikan</p>
<p>Semakin ku meraih tidak juga teraihkan</p>
<p>Oh&#8230;pantas saja</p>
<p>cahaya itu tak sendiri</p>
<p>tautan dua cahaya dalam satu pendar abadi</p>
<p>dalam bingkai suci perak berkilau</p>
<p>menambah terang pendarnya yang hakiki</p>
<p>Ya&#8230;pantaslah takkan pernah tercapai</p>
<p>kilau itu takkan tergapai</p>
<p>yang pendarnya telah senjakan kalbu</p>
<p>karna lama dalam ragu</p>
<p>&#8230;kembali</p>
<p>kini dalam gelap sepi</p>
<p>takut lagi kumelangkah</p>
<p>takut lagi kuterjatuh</p>
<p>takut lagi kupercaya</p>
<p>takut lagi aku salah</p>
<p>****** </p>
<p>&#8220;kenapa duduk?&#8221; tanyanya</p>
<p>bisikku,&#8221;aku sudah hampa. tiada lagi cahaya&#8221;</p>
<p>&#8220;aku cahaya, tiadakah kau sadari?&#8221;</p>
<p>&#8220;kau dimana?&#8221;, kuterperangah</p>
<p>&#8220;dalam hatimu!. Ikutlah aku, niscaya akan kautemukan cahaya</p>
<p> pendarnya begitu istimewa</p>
<p>tiada perlu kauragu mendekat, karena Sang Cahaya akan dekat</p>
<p>tiada perlu kauragu mengharap, karena Sang Cahaya akan mendekap&#8221;</p>
<p>Mataku berbinar tanpa sadar</p>
<p>&#8220;itulah cahaya yang kucari&#8221;</p>
<p>semua harap menjadi satu</p>
<p>&#8220;pertemukan aku&#8221;, rendah kumenghiba</p>
<p>&#8220;agar aku bisa meminta,</p>
<p>sejentik cahaya dari jernih suci pendar abadiNya</p>
<p>menyinarkan hati yang gulana</p>
<p>agar tiada lagi kutersesat</p>
<p> tiada lagi kutersayat&#8221;</p>
<p>Sang Cahaya terasa lembut menyapa</p>
<p>membuatku sadar aku ini siapa</p>
<p>tiada pentas aku menghiba</p>
<p>tanpa ada rangkai langkah</p>
<p>walau dalam gelap tetap percaya</p>
<p>akan ada cahaya diujung sana</p>
<p>yang dijanjikan oleh Sang Cahaya</p>
<p>akan menemaniku menemuinya</p>
<p>Ya&#8230;aku yakin cahaya itu disana!</p>
<p>aku hanya harus mencarinya</p>
<p>dan tetap&#8230;percaya</p>
<p>(ditulis saat &#8220;sakit&#8221;, 2 januari 2007)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=69&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2007/01/04/sang-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>reminder fr ghaida&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/26/reminder-fr-ghaida/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/26/reminder-fr-ghaida/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 08:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2006/12/26/reminder-fr-ghaida/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230;
Kedua puisi ini aku ambil dari bulletin board milik Ghaida Hapsiana, temanku di friendster. Sekilas melihat kedua puisi ini yang ditemukan adalah kesedihan yang muncul namun tidak ingin ditampakkan. Ketegaran yang ditunjukkan dengan pilihan kata2 yang sederhana namun mengena (sok tahu ;) ), menunjukkan bahwa puisi ini bukanlah fiksi imajinasi. Puisi ini adalah kata hati&#8230; terungkap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=68&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bismillah&#8230;</p>
<p>Kedua puisi ini aku ambil dari bulletin board milik <a target="_blank" href="http://www.friendster.com/user.php?uid=20200757" title="ghaida = naila?">Ghaida Hapsiana</a>, temanku di friendster. Sekilas melihat kedua puisi ini yang ditemukan adalah kesedihan yang muncul namun tidak ingin ditampakkan. Ketegaran yang ditunjukkan dengan pilihan kata2 yang sederhana namun mengena (sok tahu ;) ), menunjukkan bahwa puisi ini bukanlah fiksi imajinasi. Puisi ini adalah kata hati&#8230; terungkap dari getir hati yang yang mendamba pada suatu kejelasan. (tambah sok tahu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Kejelasan terhadap apa? Wallahu a&#8217;lam. Penulislah yang tahu&#8230; tapi bila benar apa yang kurasa dari membacanya, maka beruntunglah seseorang itu&#8230; you know lah maksudku?!</p>
<p>*puisi pertama* </p>
<p>by: Ghaida </p>
<p>Maaf, aku tak mau memanggil kesedihan itu<br />
Karena dia tetap berlabuh<br />
Walau tak pernah disuruh<br />
Dia akan tetap datang<br />
Walau tak pernah diundang</p>
<p>Maaf, aku juga tak mengenal perpisahan itu<br />
Karena yang aku tahu, dibelakang pertemuan<br />
Adalah pengenalan, adalah kedekatan<br />
Adalah harmonis, adalah manis</p>
<p>Kalau ada pahit asam<br />
Itupun hanya bumbu pengisi keadaan<br />
Yang harus tetap ada demi keseimbangan</p>
<p>Tapi aku tidak mengenal perpisahan!</p>
<p>Maaf, bila kau katakan<br />
Karena ada yang ditinggalkan<br />
Itu jadi perpisahan<br />
Sesungguhnya setiap detik kita ditinggalkan<br />
Oleh waktu yang berjalan pelan<br />
Namun tak pernah menengok kebelakang</p>
<p>Jadi, ditinggalkan itu bukan perpisahan!</p>
<p>Kalau perpisahan itu karena berjauhan<br />
Sesungguhnya, yang mengenal jarak<br />
Jauh dan dekat<br />
Hanya tubuh, yang merupakan rangkaian<br />
urat-urat<br />
Tapi jiwa, tetap tak terkurung apapun juga</p>
<p>Dia bisa dekat bila kau ikat<br />
Bisa jauh bila tak pernah disentuh<br />
Dia bisa seperti udara yang bisa panas<br />
Bisa dingin jika kau ingin</p>
<p>Maaf, indah pertemuan<br />
Memang terlalu melimpah<br />
Hingga dia sering disembunyikan</p>
<p>*puisi kedua*</p>
<p>Sepertinya yg ini mencari&#8230; mengingatkan hati! Hatipenulis sendiri ataukah bersama seseorang yang diharapkan?&#8230; Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Tapi, dengan membaca ini&#8230; aku jadi istighfar, sejujurnya&#8230; aku baru bersungguh 2 dalam meminta saat akau dalam posisi susah. Sungguh jarang aku bersungguh2 memohon saat dalam bahagia. Ah sungguh sia &#8211; sia bila yang diperoleh tiada pernah disyukuri, sedangkan jelaslah dengan mensyukuri akan bertambahlah nikmat kita dan bila sebaliknya&#8230; sungguh amat pedih siksaNya. Naudzubillah&#8230;</p>
<p>by: Ghaida H </p>
<p>Ada apa lagi teman?<br />
Kenapa pulang pergi berulang-ulang?<br />
Berlari- lari seperti ingin sembunyi<br />
Atau sekedar mencari kepuasan diri?</p>
<p>Haruskah selalu menunggu gelap<br />
Hingga semua jalan tak tampak<br />
Lalu berharap bulan kembali hinggap?</p>
<p>Haruskah selalu menunggu duka tiba<br />
Untuk kembali mengingatNya?<br />
Haruskah menanti hidup kembali terbata- bata<br />
Baru mencari jalan meminta padaNya?</p>
<p>Haruskah menunggu terus<br />
sampai nafas kita terputus?<br />
Atau terus menanti<br />
Sampai nadi kita berhenti?</p>
<p>Haruskah menunggu masa<br />
Saat kaki kita bercerita<br />
Tangan kita mengisahkan semua?</p>
<p>Haruskah menungu waktu<br />
Sampai kita tak mungkin lagi bertemu?</p>
<p>Aku masih menunggumu!</p>
<p>PS: Ulasannya gak usah diperhatiin&#8230;jelas ngaco. Puisinya aja yg dibaca. Indah&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=68&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/26/reminder-fr-ghaida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dua sajak flora dan fauna&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/09/dua-sajak-flora-dan-fauna/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/09/dua-sajak-flora-dan-fauna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Dec 2006 06:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2006/12/09/dua-sajak-flora-dan-fauna/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sempat main lagi ke tempatnya Mas Hendra, bukunyanyian, trus baca dua sajak flora dan fauna. Banyak puisi dan sajak yg dituliskan sama Mas Hendra tapi nggak tau kenapa kok suka sekali dengan yang ini&#8230;
Sehubungan dengan telah diijinkannya mengcopy dari bukunyanyian oleh empunya, maka nih saya tampilin lagi&#8230;Kalau ingin lihat puisi yg lainnya langsung aja main [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=60&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="post-title"><em>Kemarin sempat main lagi ke tempatnya Mas Hendra, </em><a target="_blank" href="http://bukunyanyian.blogspot.com" title="gudangnya puisi"><em>bukunyanyian</em></a><em>, trus baca dua sajak flora dan fauna. Banyak puisi dan sajak yg dituliskan sama Mas Hendra tapi nggak tau kenapa kok suka sekali dengan yang ini&#8230;</em></p>
<p class="post-title"><em>Sehubungan dengan telah diijinkannya mengcopy dari </em><a target="_blank" href="http://bukunyanyian.blogspot.com" title="gudangnya puisi"><em>bukunyanyian</em></a><em> oleh empunya, maka nih saya tampilin lagi&#8230;Kalau ingin lihat puisi yg lainnya langsung aja main kesana <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p class="post-title">1.<br />
Pagi masih terlalu dini bagi bunga-bunga<br />
Untuk bangun membuka mata<br />
Merekahkan kelopak mereka<br />
Menampung cahaya</p>
<p>Baiklah, sebentar lagi<br />
Saya jenguk kembali</p>
<p>2.<br />
Kecoak kecil merayap di atas meja<br />
Biarkan saja; usia bangsanya jauh lebih purba<br />
Lagi pula, adakah yang akan menghibur ibunya<br />
Jika si kecil satu ini tak kunjung pulang ke sarangnya ?
</p>
<p class="post-title">(written by Hendra @ <a target="_blank" href="http://bukunyanyian.blogspot.com" title="gudangnya puisi">bukunyanyian</a>)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=60&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2006/12/09/dua-sajak-flora-dan-fauna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ketika derita mengabadikan cinta&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/16/ketika-derita-mengabadikan-cinta/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/16/ketika-derita-mengabadikan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Nov 2006 12:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2006/11/16/ketika-derita-mengabadikan-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Benarlah bila dikatakan dengan membaca kisah ini akan dapat memupuskan kerasnya hati&#8230;Subhanallah, setidaknya satu hal yang patut aku sesali karena pernah melakukannya. Beberapa kalimat inilah penyebabnya,  
Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan &#8220;Pasha&#8221;. Lewat tangannya (sebagai tukang cukur) ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=54&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">Benarlah bila dikatakan dengan membaca kisah ini akan dapat memupuskan kerasnya hati&#8230;Subhanallah, setidaknya satu hal yang patut aku sesali karena pernah melakukannya. Beberapa kalimat inilah penyebabnya, </span></font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';"> </span></font></span></p>
<blockquote><p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan &#8220;Pasha&#8221;. Lewat tangannya (sebagai tukang cukur) ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan</span></font></span></p></blockquote>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">Astaghfirullah, harus kuakui pernah dalam satu sisi aku malu mengakui pekerjaan ayahku dihadapan teman2 sekolahku. Padahal, meskipun kondisi kami lebih baik dari kutipan diatas, bagaimanapun seharusnya aku bangga kepada beliau karena dengan jerih payahnya di&#8221;lahirkanlah&#8221; 2 orang Sarjana Teknik dari <a target="_blank" href="http://www.its.ac.id" title="kampus tercinta">ITS</a> kebelantara dunia. Ayah, maafkan aku yang kurang pandai bersyukur ini.</span></font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">Allah&#8230;ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.</span></font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">Hal lain dari posting ini adalah kutemukan suatu getaran dihati saat aku membacanya. Posting ini sudah pasti banyak beredar di blog yang lain (dan sudah aku buktikan), walaupun sulit bagiku menemukan data sang professor dan istri di dunia nyata menggunakan Mr. <a target="_blank" href="http://www.google.com" title="searching tool">google</a> (maklum nyarinya hanya sekilas). Sangat mirip saat membaca ayat &#8211; ayat cintanya Habiburrahman El Shirazy, ada suatu keinginan yang meluap2 untuk mencoba merasakannya dalam dunia nyata tapi tertahan oleh kondisi nyata. Ah&#8230;susah!</span></font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">&#8220;Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan&#8230;&#8221;</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol ditelevisi itu.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu&#8230;<span id="more-54"></span></font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu&#8217;ala Rasulillah, amma ba&#8217;du. Sebelumnya saya mohon ma&#8217;af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita&#8230;</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.</p>
<p>Tiga puluh tahun yang lalu &#8230;<br />
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah keatas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan &#8220;Pasha&#8221; yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma&#8217;adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.</p>
<p>Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. <span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau<br />
kalangan high class yang sepadan! </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli. </font></span></p>
<p></font></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur didalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">&#8220;Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja&#8221; tegas ayah.Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.</p>
<p>Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian<br />
serta tutur bahasanya yang halus.</p>
<p>Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.</p>
<p>Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur&#8230;.tukang cukur, ya&#8230; sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan &#8220;Pasha&#8221;. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.</p>
<p>Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang keberapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?</p>
<p>Dengan enteng ayah menjawab. &#8220;Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.&#8221;</p>
<p>Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.</p>
<p>Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.</p>
<p>Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui<br />
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.</p>
<p>Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.</p>
<p>Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?</p>
<p>Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma&#8217;dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma&#8217;dzun untuk melaksanakan akad<br />
nikah kami secara syari&#8217;ah mengikuti mahzab Imam Hanafi. Ketika Ma&#8217;dzun menuntun saya, &#8220;Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.&#8221;</p>
<p>Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata<br />
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami<br />
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma&#8217;dzun.</p>
<p>Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!</p>
<p>Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu dijalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.</p>
<blockquote><p>&#8220;Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!&#8221;<br />
&#8220;Tidak&#8230; Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada<br />
mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. <span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,&#8221; jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.</font></span></p></blockquote>
<p><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk diemperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT. </font></span></p>
<p></font></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja&#8230; tak lebih.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan<br />
gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling<br />
nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.</p>
<p>Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Rasul. <span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur&#8217;an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi&#8217;ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,&#8221;Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.&#8221;</font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter<br />
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. </font></span></p>
<p></font></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Lalu mereka keluar dengan ancaman, &#8220;Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha.&#8221;</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Yang mereka maksudkan dengan Tuan &#8220;Pasha&#8221; adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. <span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami.</font></span></font></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">  Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &amp; lepas dari belenggu derita:</font></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"></p>
<p align="center">Sambil menatap kaki langit<br />
Kukatakan kepadanya<br />
Di sana&#8230; di atas lautan pasir kita akan berbaring<br />
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba<br />
Bukan karna ketiadaan kata-kata<br />
Tapi karena kupu-kupu kelelahan<br />
Akan tidur di atas bibir kita<br />
Besok, oh cintaku&#8230; besok<br />
Kita akan bangun pagi sekali<br />
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka<br />
Dan akan terbang bersama angin<br />
Seperti burung-burung</p>
<p>Yah&#8230; saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!</p>
<p>&#8220;Gila&#8230; ide gila!!!&#8221; pikirku saat itu. Bagaimana tidak&#8230;ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:</p>
<p>&#8220;Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.</p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.&#8221;</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Jadilah kami berdua masuk Program Magister. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> Siang hari, jangan tanya&#8230; kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. </font></span></p>
<p></font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. </font></span></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. </font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">&#8220;Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang&#8230;&#8221; bisiknya mesra sambil tersenyum.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. </span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami<br />
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk<br />
pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat. </span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang &#8216;edan&#8217;. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">&#8220;Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup dinegara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.&#8221;</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"> </span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Kucium kening istriku, dan bismillah&#8230; kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis<br />
jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan. Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.</p>
<p>Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah SWT dan bertambahlan rasa cinta kami.</p>
<p>Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz&#8230;&#8221;</p>
<p>Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.</span><span></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span>NB: Nah gemeter nggak bacanya? </span></p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=54&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/16/ketika-derita-mengabadikan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>the story of ahmadinejad&#8230;</title>
		<link>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/08/the-story-of-ahmadinejad/</link>
		<comments>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/08/the-story-of-ahmadinejad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2006 02:28:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ewepe</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[welcome drink]]></category>
		<category><![CDATA[words of heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ewepe.wordpress.com/2006/11/08/the-story-of-ahmadinejad/</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun datang pagi, tapi baru jam 9 sempat buka email sambil dengerin musiknya Dave Koz (mau denger juga? klik disini). Salah satu email dari teman baik masuk dalam inbox yang berisi buaaaanyaak sekali email baru (padahal baru jam 9 pagi!). 
Teman baikku itu mendapat info ini dari salah satu milist yang diikutinya dan dengan kebaikannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=49&subd=ewepe&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Georgia;">Walaupun datang pagi, tapi baru jam 9 sempat buka email sambil dengerin musiknya Dave Koz (mau denger juga? klik <a target="_blank" href="http://dotten.multiply.com/music">disini</a>). </span><span style="font-family:Georgia;">Salah satu email dari teman baik masuk dalam inbox yang berisi buaaaanyaak sekali email baru (padahal baru jam 9 pagi!). </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Teman baikku itu mendapat info ini dari salah satu milist yang diikutinya dan dengan kebaikannya sampai lah info ini di komputerku. </span><span style="font-family:Georgia;">Oleh karenanya, email ini ingin aku share dengan teman2 tanpa merubah teksnya sedikitpun karena menurutku ditulis dengan cukup baik. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Selamat membaca dan semoga bermanfaat&#8230;</span></p>
<blockquote><p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Air mata saya </span><span style="font-family:Georgia;">mengalir membaca ini. Subhanallah! </span><span style="font-family:Georgia;">Alangkah rendah hatinya pemimpin </span><span style="font-family:Georgia;">satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi. </span></span></p></blockquote>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;">Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa sederhanakah beliau ini? </span><span style="font-family:Georgia;">Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan </span><span style="font-family:Georgia;">sebagian dari yang saya baca dari buku &#8220;Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia&#8221;. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Konon, <span> </span>ketika beliau sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta, ia masih tampil dengan sepatu yang bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu. Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. </span></span><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan </span><span style="font-family:Georgia;">hampir semua guru rasanya punya jas. </span></span></p>
<blockquote></blockquote>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri <span id="more-49"></span>mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para mullah. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. </span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya? </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">&#8220;Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran.&#8221; Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru. Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan, dan menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Ia juga menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu. Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul &#8220;Only in _Equot; salah satunya dari Teheran dengan judul &#8220;Only in Teheran&#8221; dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopotlampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550 walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Tapi itu baru awal cerita. Pada tanggal 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya?</span><span style="font-family:Georgia;"><span> </span></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span></span>Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas Ahmadinejad paling buncit.Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Sebagai walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat. Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi.Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir balik olehnya. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos kekuasaan di Iran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. </span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata. Seorang &#8217;satria piningit&#8217; yang mewujud dalam sosok nyata. Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Ia seolah memiliki &#8216;kepribadian ganda&#8217;, di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. </span><span style="font-family:Georgia;">Dalam pandangannya, untuk </span><span style="font-family:Georgia;">mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan, mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup dimenara gading. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa &#8216;uang minyak ke piring-piring orang miskin&#8217; dengan program &#8220;Reza Love Fund&#8221; (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab, &#8220;Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik.&#8221;Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab, &#8220;Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat.&#8221; </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Air mata saya </span><span style="font-family:Georgia;">mengalir membaca ini. Subhanallah! </span><span style="font-family:Georgia;">Alangkah rendah hatinya pemimpin </span><span style="font-family:Georgia;">satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi. </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya menganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya sendiri an menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. </span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya, &#8220;Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? </span><span style="font-family:Georgia;">Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?&#8221; </span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;">Suatu argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat. Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan debat di PBB.</span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Wallahu a&#8217;lam bishawwab</span><span style="font-family:Georgia;"> </span><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ewepe.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ewepe.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ewepe.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ewepe.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ewepe.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ewepe.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ewepe.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ewepe.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ewepe.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ewepe.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ewepe.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ewepe.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ewepe.wordpress.com&blog=421709&post=49&subd=ewepe&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ewepe.wordpress.com/2006/11/08/the-story-of-ahmadinejad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00663d3c93c7a9875330c7cb6f6da84b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ewepe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>