Archive for words of heart
bidadariku…
Kemarin, setibanya dari kantor, tidak seperti biasanya barisan buku – buku di ruang tamu berhasil mengundangku untuk mendekat. Selain hampir seluruh buku sudah pernah dibaca ditempat itu juga biasanya kacamataku tergeletak, tapi saat ini kacamataku tergantung menghiasi mukaku. Jadi apa yang menarik?
Bola mata ini melirik secara teratur dari kiri ke kanan, melihat rangkaian kata – kata yang disusun menjadi judul – judul buku…masih ada dua jam sampai jam tidur. Buku apa yang bisa menemaniku menghancurkan kebosanan namun tetap bisa menambah ilmu?
Ah… buku dengan cover berwarna kuning keemasan itu menghentikan gerakan mata untuk mencari. Best Seller Nasional karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat – ayat Cinta. Ringan dibaca namun sarat makna. Banyak materi religi dibungkus dengan bumbu percintaan penuh perenungan.
Terpikir untuk membaca pada bagian favorit dimana Fahri dipertemukan dengan Aisha melalui majelis khitbah. Lembar demi lembar kulewati untuk menemukan bagian favorit itu. Eit.. tanganku berhenti membolak – balik halaman novel pembangun jiwa saat kukira telah sampai dilembar yang kucari. Bukan!.. belum sampai ternyata.. tapi walau demikian mata ini tetap sekilas membaca untuk mengetahui sampai dimana lembar novel ini terbuka. Ah ada yang menarik hatiku rupanya. Membacanya membuatku merenung dan memuji bagaimana rumitnya salah satu misteri yang dituliskan Habiburrahman El Shirazy dalam halaman ini. Ditulis begini:
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi – mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori – pori cinta dan semangatku
Sebab, Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku
Indah sekali terasa. Mungkin karena akhir – akhir ini perasaan sendiri ini mulai terasa memuakkan dan kesadaran cepatnya waktu berputar ini begitu terlambat datangnya.
Bidadariku, entah dimana dan kapan akan berjumpa. Misteri ini tidak mudah. Penuh dengan rangkaian cara dan warna – warna kebesarnNya. Semua serba indah bila mengikuti ketentuannya dan semua serba barakah bila mengikuti sunnah rasulNya.
Bidadariku,
kesendirian ini menyesakkan
memenuhi rongga hati
membuatku tak dapat lagi mengisikan ketenangan
mengisikan kebahagiaan
mengisikan keceriaan
karena aku tahu
ketenangan, kebahagiaan dan keceriaan itu
hanya akan bisa terisikan
di rongga hati lain
rongga hatimu wahai bidadariku
(untuk) Ytc. di Jabodetabek
Assalamu’alaikum Wr Wb
Ytc,Ikhwan wa akhwat fillah, Saudara/i, sahabat, rekan dan teman Di Jabodetabek
Maha Besar Allah yang menentukan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.
Ikhwan wa akhwat fillah, Insya Allah tidak perlu kami mengingatkan bahwa Allah tidak akan membiarkan seorang hambanya berkata ”kami telah beriman”, melainkan Allah akan memberikan cobaan kepadanya untuk membuktikan dan meneguhkan iman mereka. Cobaan pada rizki, harta dan juga keluarga… Wahai saudara dan saudariku. Yup, ini adalah cobaan! Cobaan yang berat dan bahkan mungkin ada yang merasakan sebagai cobaan yang maha berat.
Bohong bila kami berkata kami mengerti begaimana dalamnya duka yang antum rasakan, kesedihan yang menggelayut dan kehilangan yang tak tertahan.
Sahabat, marilah kita ingat kenapa Ia memberi cobaan. Salah satunya karena Ia cinta sekali padamu…sangat merindukan tangis dan rintihan harapmu dalam derai do’amu saat memohon kemurahanNya…Allah sangat merindukan itu. Oleh karenanya, Allah hanya kan memberikan cobaanNya sebatas yang hambaNya mampu memikulnya karena Allah tidak akan pernah sekalipun mendhalimi hambaNya.
Rekan dan teman. Sekali lagi, dusta besar bila kami telah melakukan banyak hal untuk meringankan beban penderitaanmu. Besar kemungkinan saat ini kami hanya mampu takjub dengan derasnya aliran banjir dari sungai Cisadene, tingginya banjir didaerah yang katanya elit. Kami juga hanya mampu mengucap kata ”kasihan ya” saat kameramen mengarahkan lensanya menyorot banyak teman yang belum terevakuasi dan berjuang melawan dinginnya air hujan dan kelaparan.
Afwan, maaf; saudara/i, shabat, rekan dan teman
Minimal, ijinkan kami bersimpati ditengah keterbatasan yang ada. Ijinkan kami untuk membantu juga lewat do’a yang merupakan senjata utama umat beragama.
”Semoga Allah SWT, dengan segala ketetapanNya yang terbaik bagi hambaNya, membukakan pinta ampunanNya bagi kita semua. Semoga dengan segala kemurahanNya, segera diangkat cobaan ini dari pundak kita semua. Semoga dengan ke-Maha Rahim-an yang dimilikiNya, digantikan segala kesabaran, ketabahan, khusnudzan dan kecintaan kita semua padaNya dengan balasan yang jauh lebih baik.”
Amin ya Rabbal ’alamiin
kupinang engkau karena Dia
Bismillah…
Kupinang engkau
Bukan karena lelah
Tapi karena galau
Bukan karena salah
Tapi ku tak ingin kacau
Tak seperti yang engkau kira
Kupinang engkau karena apa
Bukan karena harta
Walau memang ku tak berpunya
Bukan semata wajah
Walau sungguh akupun bukan arjuna
Bukan akibat dunia pastinya
Karna akupun juga pengelana
Kupinang engkau karena Dia
Dia yang telah memberimu rahmah
Janji teguhmu mencintaiNya sepanjang masa
Dia yang telah memberimu berkah
Mampu mencinta bunda sedemikian rupa
Kupinang engkau karena Dia
Ikhtiar telah kucoba
Setelah itu semua kuserahkan padaNya
Terserah engkau kini wahai purnama
Apakah engkau bersedia?
(office/ sby, 170107)
tombo ati remake = tombo sepi…
Grup nasyid ini kreatif juga membuat Parodi dari nasyidnya Opick yg berjudul ”Tombo Ati” jadi ”Tombo Sepi”. So buat-buat kamu yang belum menikah, dengerin deh!!! Walau parodi tapi serius penuh nasehat…
Nasyid ini dibawakan di sebuah Temu Remaja di Depok. Nama grup ini Gondes (Gondrong n Desso) para alumni STAN
taken from: YOUTUBE.COM
Sang Cahaya…
Ah disana…
Ya…Itu dia
cahaya terang berpendar indah
Mungkin disana, akhir dari berjuta langkah
yang telah membuatku terlena
Membuatku terantuk, terjatuh, terperosok tiada guna
Ya…disana
segala harap tertuju
disana, di ujung pandang mata
pendar cahaya itu berada
Tapi, aneh! Semakin ku mendekat tidak juga terdekatkan
Semakin ku menggapai tidak juga tergapaikan
Semakin ku meraih tidak juga teraihkan
Oh…pantas saja
cahaya itu tak sendiri
tautan dua cahaya dalam satu pendar abadi
dalam bingkai suci perak berkilau
menambah terang pendarnya yang hakiki
Ya…pantaslah takkan pernah tercapai
kilau itu takkan tergapai
yang pendarnya telah senjakan kalbu
karna lama dalam ragu
…kembali
kini dalam gelap sepi
takut lagi kumelangkah
takut lagi kuterjatuh
takut lagi kupercaya
takut lagi aku salah
******
“kenapa duduk?” tanyanya
bisikku,”aku sudah hampa. tiada lagi cahaya”
“aku cahaya, tiadakah kau sadari?”
“kau dimana?”, kuterperangah
“dalam hatimu!. Ikutlah aku, niscaya akan kautemukan cahaya
pendarnya begitu istimewa
tiada perlu kauragu mendekat, karena Sang Cahaya akan dekat
tiada perlu kauragu mengharap, karena Sang Cahaya akan mendekap”
Mataku berbinar tanpa sadar
“itulah cahaya yang kucari”
semua harap menjadi satu
“pertemukan aku”, rendah kumenghiba
“agar aku bisa meminta,
sejentik cahaya dari jernih suci pendar abadiNya
menyinarkan hati yang gulana
agar tiada lagi kutersesat
tiada lagi kutersayat”
Sang Cahaya terasa lembut menyapa
membuatku sadar aku ini siapa
tiada pentas aku menghiba
tanpa ada rangkai langkah
walau dalam gelap tetap percaya
akan ada cahaya diujung sana
yang dijanjikan oleh Sang Cahaya
akan menemaniku menemuinya
Ya…aku yakin cahaya itu disana!
aku hanya harus mencarinya
dan tetap…percaya
(ditulis saat “sakit”, 2 januari 2007)
reminder fr ghaida…
Bismillah…
Kedua puisi ini aku ambil dari bulletin board milik Ghaida Hapsiana, temanku di friendster. Sekilas melihat kedua puisi ini yang ditemukan adalah kesedihan yang muncul namun tidak ingin ditampakkan. Ketegaran yang ditunjukkan dengan pilihan kata2 yang sederhana namun mengena (sok tahu ;) ), menunjukkan bahwa puisi ini bukanlah fiksi imajinasi. Puisi ini adalah kata hati… terungkap dari getir hati yang yang mendamba pada suatu kejelasan. (tambah sok tahu
).
Kejelasan terhadap apa? Wallahu a’lam. Penulislah yang tahu… tapi bila benar apa yang kurasa dari membacanya, maka beruntunglah seseorang itu… you know lah maksudku?!
*puisi pertama*
by: Ghaida
Maaf, aku tak mau memanggil kesedihan itu
Karena dia tetap berlabuh
Walau tak pernah disuruh
Dia akan tetap datang
Walau tak pernah diundang
Maaf, aku juga tak mengenal perpisahan itu
Karena yang aku tahu, dibelakang pertemuan
Adalah pengenalan, adalah kedekatan
Adalah harmonis, adalah manis
Kalau ada pahit asam
Itupun hanya bumbu pengisi keadaan
Yang harus tetap ada demi keseimbangan
Tapi aku tidak mengenal perpisahan!
Maaf, bila kau katakan
Karena ada yang ditinggalkan
Itu jadi perpisahan
Sesungguhnya setiap detik kita ditinggalkan
Oleh waktu yang berjalan pelan
Namun tak pernah menengok kebelakang
Jadi, ditinggalkan itu bukan perpisahan!
Kalau perpisahan itu karena berjauhan
Sesungguhnya, yang mengenal jarak
Jauh dan dekat
Hanya tubuh, yang merupakan rangkaian
urat-urat
Tapi jiwa, tetap tak terkurung apapun juga
Dia bisa dekat bila kau ikat
Bisa jauh bila tak pernah disentuh
Dia bisa seperti udara yang bisa panas
Bisa dingin jika kau ingin
Maaf, indah pertemuan
Memang terlalu melimpah
Hingga dia sering disembunyikan
*puisi kedua*
Sepertinya yg ini mencari… mengingatkan hati! Hatipenulis sendiri ataukah bersama seseorang yang diharapkan?… Wallahu a’lam.
Tapi, dengan membaca ini… aku jadi istighfar, sejujurnya… aku baru bersungguh 2 dalam meminta saat akau dalam posisi susah. Sungguh jarang aku bersungguh2 memohon saat dalam bahagia. Ah sungguh sia – sia bila yang diperoleh tiada pernah disyukuri, sedangkan jelaslah dengan mensyukuri akan bertambahlah nikmat kita dan bila sebaliknya… sungguh amat pedih siksaNya. Naudzubillah…
by: Ghaida H
Ada apa lagi teman?
Kenapa pulang pergi berulang-ulang?
Berlari- lari seperti ingin sembunyi
Atau sekedar mencari kepuasan diri?
Haruskah selalu menunggu gelap
Hingga semua jalan tak tampak
Lalu berharap bulan kembali hinggap?
Haruskah selalu menunggu duka tiba
Untuk kembali mengingatNya?
Haruskah menanti hidup kembali terbata- bata
Baru mencari jalan meminta padaNya?
Haruskah menunggu terus
sampai nafas kita terputus?
Atau terus menanti
Sampai nadi kita berhenti?
Haruskah menunggu masa
Saat kaki kita bercerita
Tangan kita mengisahkan semua?
Haruskah menungu waktu
Sampai kita tak mungkin lagi bertemu?
Aku masih menunggumu!
PS: Ulasannya gak usah diperhatiin…jelas ngaco. Puisinya aja yg dibaca. Indah…
dua sajak flora dan fauna…
Kemarin sempat main lagi ke tempatnya Mas Hendra, bukunyanyian, trus baca dua sajak flora dan fauna. Banyak puisi dan sajak yg dituliskan sama Mas Hendra tapi nggak tau kenapa kok suka sekali dengan yang ini…
Sehubungan dengan telah diijinkannya mengcopy dari bukunyanyian oleh empunya, maka nih saya tampilin lagi…Kalau ingin lihat puisi yg lainnya langsung aja main kesana
1.
Pagi masih terlalu dini bagi bunga-bunga
Untuk bangun membuka mata
Merekahkan kelopak mereka
Menampung cahaya
Baiklah, sebentar lagi
Saya jenguk kembali
2.
Kecoak kecil merayap di atas meja
Biarkan saja; usia bangsanya jauh lebih purba
Lagi pula, adakah yang akan menghibur ibunya
Jika si kecil satu ini tak kunjung pulang ke sarangnya ?
(written by Hendra @ bukunyanyian)
ketika derita mengabadikan cinta…
Benarlah bila dikatakan dengan membaca kisah ini akan dapat memupuskan kerasnya hati…Subhanallah, setidaknya satu hal yang patut aku sesali karena pernah melakukannya. Beberapa kalimat inilah penyebabnya,
Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya (sebagai tukang cukur) ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan
Astaghfirullah, harus kuakui pernah dalam satu sisi aku malu mengakui pekerjaan ayahku dihadapan teman2 sekolahku. Padahal, meskipun kondisi kami lebih baik dari kutipan diatas, bagaimanapun seharusnya aku bangga kepada beliau karena dengan jerih payahnya di”lahirkanlah” 2 orang Sarjana Teknik dari ITS kebelantara dunia. Ayah, maafkan aku yang kurang pandai bersyukur ini.
Allah…ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.
Hal lain dari posting ini adalah kutemukan suatu getaran dihati saat aku membacanya. Posting ini sudah pasti banyak beredar di blog yang lain (dan sudah aku buktikan), walaupun sulit bagiku menemukan data sang professor dan istri di dunia nyata menggunakan Mr. google (maklum nyarinya hanya sekilas). Sangat mirip saat membaca ayat – ayat cintanya Habiburrahman El Shirazy, ada suatu keinginan yang meluap2 untuk mencoba merasakannya dalam dunia nyata tapi tertahan oleh kondisi nyata. Ah…susah!
“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan…” Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu.
Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol ditelevisi itu.Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu… Read the rest of this entry »
the story of ahmadinejad…
Walaupun datang pagi, tapi baru jam 9 sempat buka email sambil dengerin musiknya Dave Koz (mau denger juga? klik disini). Salah satu email dari teman baik masuk dalam inbox yang berisi buaaaanyaak sekali email baru (padahal baru jam 9 pagi!).
Teman baikku itu mendapat info ini dari salah satu milist yang diikutinya dan dengan kebaikannya sampai lah info ini di komputerku. Oleh karenanya, email ini ingin aku share dengan teman2 tanpa merubah teksnya sedikitpun karena menurutku ditulis dengan cukup baik.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat…
Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi.
Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa sederhanakah beliau ini? Let me tell you. Berikut ini saya kutipkan sebagian dari yang saya baca dari buku “Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia”.
Konon, ketika beliau sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta, ia masih tampil dengan sepatu yang bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu. Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan hampir semua guru rasanya punya jas.
Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri Read the rest of this entry »




