Ah disana…
Ya…Itu dia
cahaya terang berpendar indah
Mungkin disana, akhir dari berjuta langkah
yang telah membuatku terlena
Membuatku terantuk, terjatuh, terperosok tiada guna
Ya…disana
segala harap tertuju
disana, di ujung pandang mata
pendar cahaya itu berada
Tapi, aneh! Semakin ku mendekat tidak juga terdekatkan
Semakin ku menggapai tidak juga tergapaikan
Semakin ku meraih tidak juga teraihkan
Oh…pantas saja
cahaya itu tak sendiri
tautan dua cahaya dalam satu pendar abadi
dalam bingkai suci perak berkilau
menambah terang pendarnya yang hakiki
Ya…pantaslah takkan pernah tercapai
kilau itu takkan tergapai
yang pendarnya telah senjakan kalbu
karna lama dalam ragu
…kembali
kini dalam gelap sepi
takut lagi kumelangkah
takut lagi kuterjatuh
takut lagi kupercaya
takut lagi aku salah
******
“kenapa duduk?” tanyanya
bisikku,”aku sudah hampa. tiada lagi cahaya”
“aku cahaya, tiadakah kau sadari?”
“kau dimana?”, kuterperangah
“dalam hatimu!. Ikutlah aku, niscaya akan kautemukan cahaya
pendarnya begitu istimewa
tiada perlu kauragu mendekat, karena Sang Cahaya akan dekat
tiada perlu kauragu mengharap, karena Sang Cahaya akan mendekap”
Mataku berbinar tanpa sadar
“itulah cahaya yang kucari”
semua harap menjadi satu
“pertemukan aku”, rendah kumenghiba
“agar aku bisa meminta,
sejentik cahaya dari jernih suci pendar abadiNya
menyinarkan hati yang gulana
agar tiada lagi kutersesat
tiada lagi kutersayat”
Sang Cahaya terasa lembut menyapa
membuatku sadar aku ini siapa
tiada pentas aku menghiba
tanpa ada rangkai langkah
walau dalam gelap tetap percaya
akan ada cahaya diujung sana
yang dijanjikan oleh Sang Cahaya
akan menemaniku menemuinya
Ya…aku yakin cahaya itu disana!
aku hanya harus mencarinya
dan tetap…percaya
(ditulis saat “sakit”, 2 januari 2007)




